Antisipasi terhadap penyakit Blas pada Tanaman PADI
Salah satu penyakit yang menjangkiti tanaman padi adalah blas leher atau dalam bahasa di tempat saya orang-orang menyebutnya Teklik  atau patah leher, ini biasanya terjadi ketika musim penghujan dan ketika tanaman padi sudah keluar malai. hal ini terjadi di tempat saya menanam padi yaitu di Desa Sukawera Kecamatan Kertasemaya Kabupaten Indramayu. ada beberapa petak sawah […]
Salah satu penyakit yang menjangkiti tanaman padi adalah blas leher atau dalam bahasa di tempat saya orang-orang menyebutnya Teklik  atau patah leher, ini biasanya terjadi ketika musim penghujan dan ketika tanaman padi sudah keluar malai. hal ini terjadi di tempat saya menanam padi yaitu di Desa Sukawera Kecamatan Kertasemaya Kabupaten Indramayu. ada beberapa petak sawah yang sangat parah terkena penyakit patah leher ini hiangga dianggap gagal panen, karena hampir 95 % pada yang sudah keluar malai dan sudah terisi sekitar 25% terkulai bagian pangkal malai sehingga menjadi gabug atau tidak berisi.

Dalam pada itu PPL kecamatan Kertasemaya turun ke lokasi dalam rangka peninjauan ke area sawah yang terkena penyakit blas tersebut. dan hasil dari analisa dari PPL tersebut bahwa memang benar padi tersebut terkena penyakit blas, untuk itu PPL kecamatan kertasemaya me wanti-wanti agar terhindar dari penyakit ini lakukan penyemprotan dengan Fungisida pada fase Primordia atau  menjelang keluar malai ( Bunting Tua), dan untuk mengantisipasi penularan ke arah yang lebih luas maka ulangi penyemprotan dengan fungisida pada fase malai sudah meratak sekitar 50%.


Ada beberapa faktor penyebab terjadinya penyakit blas leher (Neck Blas) pada tanaman padi ini diantaranya yaitu : Suhu udara yang lembab, adanya hujan ketika keluar malai, bibit yang mengandung penyakit ini.
berikut gambar sawah yang terserang penyakit blas leher ini :

Untuk  mengentisipasi agar tidak terjangkit penyakit ini maka lakukan hal-hal berikut :


Berikut adalah beberapa cara pencegahan dan Pengendalian:
1. Pengelolaan tanaman terpadu (PTT) pada tanaman padi . 
Salah satu tujuan PTT adalah mampu menekan penurunan hasil akibat OPT (Organisme penggangu Tumbuhan) antara lain dengan jalan sebagai berikut : a. Penggunaan varietas tahan & pembenaman jerami Penggunaan varietas baru yang tahan terhadap blas sangat dianjurkan bagi daerah yang endemi terhadap blas antara lain : Inpari 13, Luk ulo, Silugonggo, Batang Piaman, Inpago dll. Proses dekomposisasi jerami selain dapat berfungsi sebagai pupuk organik juga dapat membunuh miselia blas dan tidak berpotensi untuk berkembang. b. Pemupukan berimbang Penggunaan pupuk sesuai anjuran terutama pada daerah-daerah endemi penyakit blas terutama dengan penggunaan Nitrogen yang tidak berlebihan dan dengan penggunaan kalium dan phosfat, dianjurkan agar dapat mengurangi infeksi blas di lapangan. Penggunaan kalium mempertebal lapisan epidermis pada daun sehingga penetrasi spora akan terhambat dan tidak akan berkembang di lapangan. c. Waktu tanam yang tepat Pengaturan waktu tanam pada saat yang bertepatan banyak embun perlu dihindari agar pertanaman terhindar dari serangan penyakit blas yang berat. Keadaan ini memerlukan data iklim spesifik dari wilayah-wilayah pertanaman padi setiap lokasi.

2. Penggunaan Fungisida Kimia & Nabati 
a. Fungisida Kimia Penggunaan fungisida kimia juga dianjurkan bagi daerah yang endemi terhadap blas dengan ketentuan menggunakan Pengendalian Hama secara Terpadu dan tepat guna. Beberapa fungisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit blas adalah yang mengandung bahan aktif isoprotionalane, benomyl+mancoseb, kasugamycin dan thiophanate methyl,fosdifen contoh : mikocide 70, Trycyclazole, Amistartop, Score, Pyoguilon, Nelumbo 250 EC, Prima Vit dll
b. Fungisida Nabati Fungisida nabati dapat berupa produk langsung jadi yang dijual dipasaran misalnya Inokulan/starter Trichoderma sp dan Gliocladium sp yang digunakan sebagai tindakan preventif pada masa vegetatif padi. Fungisida nabati juga dapat dibuat secara sederhana dari bahan-bahan sederhana.

Berikut ini adalah beberapa cara membuat Fungisida Nabati:
  1. Cara I Bahan-bahan yang diperlukan (masing-masing 1-2 kg) : 1. bawang putih 2. temu ireng 3. temu lawak 4. umbi gadung 5. kencur 6. kalau mau lebih mantap, bisa ditambah kunir putih Langkah pembuatan: Cuci semua bahan dan tumbuk hingga halus dan campurkan jadi satu, campuran tersebut direndam dalam air bersih ± 5 liter air dalam wadah tertutup dan biarkan 3-4 hari hingga terjadi proses fermentasi setelah itu larutan diperas dan disaring dan siap digunakan. Untuk aplikasi, larutkan biang fungisida ini dalam air bersih dengan perbandingan 1 bagian : 4/5 bagian. Cara aplikasi bisa dengan disemprotkan ke tanaman yang terserang penyakit/belum (untuk pencegahan) dan atau dikocorkan langsung ke pangkal tanaman. Fungisida organik ini sekaligus juga bisa berfungsi sebagai pupuk organik cair (POC). 
  2. Cara II Bahan 1. Lenkuas/ laos 1 kg 2. Kunyit/kunir 1 kg 3. Jahe 1 kg Cara Pembuatan 1. Ketiga bahan ditumbuk atau diparut 2. Ambil sarinya dengan cara diperas 3. Bahan siap digunakan untuk 2 sendok makan dicampur dengan air 10 15 liter. 
  3. Cara III Bahan : 1. Jahe 1 kg 2. Lengkuas 1 kg 3. Kunyit 1 kg 4. Labu siam 1kg Caranya : Keempat bahan tersebut diparut lalu diperas dan disaring diambil airnya. Masukkan air saringan tersebut ke dalam botol atau tempat air lainnya untuk persedian sewaktu-waktu. Untuk pemakaian campurlah setiap satu liter air dengan 20 cc larutan fungisida tersebut. Jika diperlukan untuk bahan perekat lain dan sekaligus sebagai protein bagi tanaman maka tambahkan 2 butir telur ayam untuk campuran fungisida alami. 
  4. Cara IV Bahan Daun Sirih 300 Gram (± 30 lembar daun) Daun Jambu biji (± 30 lembar daun) Lengkuas 300 Gram Alat Blender Cara Pembuatan Bahan-bahan dihancurkan dengan blender dengan sedikit air. Kemudian diperas diambil airnya. 3-5 sendok dicampur 10-15 liter air untuk disemprotkan. 
  5. Cara V Bahan : Air Kelapa 7 liter Susu segar 1 liter/ susu kaleng 1 buah Kuning telur 7 butir Madu 1 sendok makan Gula 1 sendok makan CIU (arak lokal) 1 liter bisa diganti dengan alkohol Bahan-bahan tersebut dicampur dan dapat diaplikasikan dengan dosis 250 ml dicampur dengan air 10-14 liter (1 tangki) 
 Demikian tulisan saya kali ini mudah-mudahan bermafaat bagi Para Petani dimana saja berada, untuk yang mau berbagi tips atau tukar pengalaman silahkan memberikan komentarnya di blog saya ini.

Referensi :  
  • http://epetani.deptan.go.id/budidaya/penyakit-blas-pyricularia-oryzae-cav-pada-tanaman-padi-pengendaliannya-5282
  • http://bbpadi.litbang.deptan.go.id/index.php/in/penyakit-padi-karena-jamur/200--penyakit-blas-

One thought on “Antisipasi terhadap penyakit Blas pada Tanaman PADI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *